Selamat Datang

Melalui blog Tumbuhan Bali ini saya menayangkan berbagai jenis tumbuhan yang mempunyai arti penting dalam kehidupan orang Bali, terutama jenis-jenis tumbuhan yang digunakan dalam upacara agama dan pemanfaatan lain dalam kaitan dengan tradisi masyarakat Bali. Tayangan akan saya fokuskan pada pengenalan ciri-ciri morfologis yang dilengkapi dengan foto untuk memudahkan melakukan pengenalan, terutama bagi Anda yang hanya pernah mendengar nama tetapi belum pernah melihat sendiri bagaimana 'rupa' sesungguhnya dari tumbuhan tersebut. Karena latar belakang saya adalah pertanian maka saya mengalami keterbatasan uraian mengenai pemanfaatan dalam berbagai aspek kehidupan orang Bali, terutama dalam pemanfaatan untuk upacara keagamaan. Untuk melengkapinya, saya akan dengan terbuka menerima masukan dari Anda, terutama dari Anda yang merasa terpanggil untuk berbuat sesuatu untuk Bali.

Moolatho Brahma Roopaya, Madhyato Vishnu Roopini, Agratas Shiv Roopaya, Vriksha Rajayte Namaha.
Brahma shaped at the root, Vishnu shaped in the middle and Shiva shaped at the top, we salute You, the king of all trees.

Daftar Istilah Morfologi Tumbuhan

Klik huruf awal istilah di bawah ini untuk mencari definisi:
A, B, C, D-E, F-H, I-L, M-O, P, Q-R, S, T-U, V-Z, dari New South Wales Flora Online
A, B, C, D, E, F, G, H, I, J-K, L, M, N, O, P-Q, R, S, T, U, V, W-Z, dari Flora Australia
A, B, C, D, E, F, G, H, I, J, K, L, M, N, O, P, Q, R, S, T, U, V, W, X, Z, dari Angiosperm Phylogeny Website

Jumat, 28 Juni 2013

Tidak Lagi Ada Seribu Kunang-kunang di Kampungku

Kunang-kunang
"Mereka duduk bermalas-malasan di sofa. Marno dengan segelas scotch dan Jane dengan segelas martini. Mereka sama-sama memandang ke luar jendela." Kutipan ini berasal dari cerita pendek Umar Kayam, Seribu Kunang-kunang di Manhattan (silahkan baca dahulu sebelum melanjutkan membaca tayangan ini). Saya belum membaca cerita pendek ini, ketika dahulu, di masa kanak-kanak, menyaksikan bukan hanya seribu, melainkan beribu-ribu kunang-kunang di kampung saya. Kini, jangankan seribu, mencari beberapa ekor saja mungkin sudah tidak lagi mudah. Anak-anak kecil di kampung saya mungkin juga tidak lagi suka bermain dengan kunang-kunang, atau bahkan mungkin tidak lagi pernah tahu apa sebenarnya itu kunang-kunang. Atau mungkin, apakah mereka masih perlu bermain dengan kunang-kunang, memasukkannya ke dalam kapas dan membiarkannya berkelap-kelip di ruang gelap? Pada saat ini kunang-kunang dari Manhattan telah lama menerangi rumah-rumah kampung, lorong-lorong kampung. "Lampu-lampu yang berkelipan di belantara pencakar langit yang kelihatan dari jendela mengingatkan Marno pada ratusan kunang-kunang yang suka bertabur malam-malam di sawah embahnya di desa."
Kunang-kunang beterbangan sambil berkelap-kelip di sawah mbahnya Marno di desa menjelang petang, disaksikan oleh istri dan anak-anaknya, sementara ia sendiri menyaksikan kunang-kunang Manhattan berdua dengan Jane.

Kunang-kunang terdiri atas banyak jenis, bahkan sekitar dua ribuan jenis, semuanya tergolong serangga famili Lampyridae, ordo Coleoptera (kumbang). Dalam bahasa Inggris, kunang-kunang disebut fireflies (padahal bukan lalat) atau lightning bugs (padahal bukan kepik) karena bagian ujung perutnya dapat mengeluarkan cahaya berkelap-kelip, seakan-akan ada saklar, bisa kuning, hijau, atau merah pucat, dengan panjang gelombang 510-670 nanometer. Kunang-kunang dipilahkan ke dalam sub-famili Cyphonocerinae, Lampyrinae, Luciolinae, Ototetrinae (bermasalah), Photurinae, dan genus yang belum dapat dipastikan posisinya, Oculogryphus dan Pterotus. Saya tidak tahu jenis mana yang dahulu sering saya saksikan di kampung, tetapi yang manapun itu, jenis itu tidak lagi berkelap-kelip kini. Saya tidak tahu mengapa kunang-kunang tidak lagi betah berada di kampung saya. Menurut situs Firefly, "Nobody knows for sure. But most researchers blame two main factors: development and light pollution." Pembangunan dan polusi cahaya, katanya, adalah penyebabnya. Dan memang benar, pembangunan dan cahaya telah lama menjadi bagian tidak terpisahkan dari denyut nadi kampung saya, Banjar/Dusun Bungbungan, Desa Yehembang, Kabupaten Jembrana, Bali. Dan itu tidak hanya menghilangkan kunang-kunang, tetapi juga banyak yang lainnya, sehingga kini hanya menjadi kenangan indah masa kanak-kanak bagi saya.

Lutung jawa
Pada masa kanak-kanak, saya sering mendapat cerita mengenai lutung jawa, dalam bahasa Bali disebut 'ijah'. Menurut ibu saya, lutung mempunyai wajah mirip wajah manusia, dan hanya makan daun, itupun setelah mereka pilih terlebih dahulu. Tapi saya tidak pernah melihat lutung, sampai kemudian saya mengikuti seorang tentara yang pergi menembaknya di hutan sebelah utara kampung. Saya pun melihat wajah seekor lutung, mengerang meneteskan air mata setelah tubuhnya tertembus peluru. Itulah pertama dan terakhir kali saya melihat seekor lutung yang pernah ada di kampung saya, lutung jawa Trachypithecus auratus É. Geoffroy, 1812, yang dalam bahasa Inggris disebut javan lutung, ebony lutung, atau javan langur.
Monyet ekor panjang
Nama epitet auratus berarti keemasan, tetapi warna keemasan merupakan warna varian, sedangkan warna lutung jawa yang umum adalah hitam. Yang sering saya lihat adalah monyet ekor panjang, Macaca fascicularis Raffles, 1821, yang dalam bahasa Inggris bernama crab-eating macaque atau long-tailed macaque dan dalam bahasa Bali disebut 'bojog'. Saya benci monyet ini karena sering merusakkan tanaman dan kalau dihalau malah balik mengejar. Dahulu monyet ini sangat banyak, hidup dalam kelompok besar, bahkan bukan hanya di kampung saya, tapi di kampung sebelah Selatan, dekat sebelah pura yang ada pohon gebangnya (sehingga dahulu disebut Pura Gebang). Kini, monyet ekor panjang pun sudah jarang dapat ditemukan. Orang-orang di kampung saya kini mengajak anak-anak mereka melihat monyet ekor panjang di Sangeh atau di Alas Kedaton.

Kalong
Sering pula dahulu saya menyaksikan kalong, dalam bahasa kampung saya disebut 'bukal', terbang beriringan ke arah Timur pada petang hari dan kembali ke arah Barat pada dini hari. Bahkan, ketika pohon dadap berbunga, kalong, yang nama ilmiahnya adalah Pteropus vampyrus (Linnaeus, 1758) dan dalam bahasa Inggris disebut large flying fox atau greater flying fox, sering bergelantungan memakan bunga dadap yang banyak mengandung nektar. Dahulu, ketika kopi robusta (Coffea canephora Pierre ex A. Froehner) masih dibudidayakan sebagai tanaman utama di kampung saya, dadap (Erythrina subumbrans (Hassk.) Merr.), yang terdiri atas 'dadap lengis' (tidak berduri) dan 'dadap medui' (berduri), merupakan tanaman peneduh. Seiring dengan digantinya kopi robusta dengan cengkeh (Syzygium aromaticum (L.) Merrill & Perry) dan kemudian dengan kakao (Theobroma cacao L.), dadap tidak lagi banyak ditanam, dan kalong pun menghilang. Mungkin juga bukan hanya karena berkurangnya pohon dadap, tetapi karena dirambahnya kawasan hutan di batas Utara kampung, yang juga semakin mempercepat menghilangnya kalong. Kawasan hutan di batas Utara kampung dibabat ketika Bupati Jembrana, Prof. Gede Winasa, menjelang Pemilukada periode ke-2, membangun jalan mengitari tepi kawasan hutan. Jalan tersebut memungkinkan kendaraan bermotor, dari sepeda motor sampai truk, dapat masuk ke dalam kawasan hutan. Bukan hanya itu, masyarakat kemudian melakukan pembabatan kawasan hutan untuk dijadikan kawasan budidaya, dan Bupati Winasa pura-pura tidak tahu menahu. Masyarakat di kampung saya berterima kasih kepada Winasa dan 100% memilihnya kembali, menjadi bupati periode ke-2.

Kwanitan
Sebelum membabat kawasan hutan menjadi kawasan budidaya, beberapa orang di kampung saya sudah biasa mencuri kayu untuk dijual. Pada awalnya dengan bermodalkan kapak dan gergaji manual, kini bermodalkan gergaji bermesin. Dahulu, ketika mengajak saya ke hutan untuk mencari bahan membangun rumah, kakek saya menunjukkan pohon kwanitan (Dysoxylum cyrtobotryum Miq.), majegau (Dysoxylum densiflorum (Blume) Miq.), dan udusari. Kini, saya tidak lagi bisa menemukan jenis pohon hutan tersebut, meinkan jelatang pohon tumbuh di mana-mana. Jangankan lagi pohon buah-buahan seperti buni (Antidesma bunius (L.) Spreng.), kaliasem (Syzygium polycephalum (Miq.) Merr. & L.M.Perry), kapundung (Baccaurea racemosa (Reinw. ex Bl.) Müll. Arg.), dan katulampa (Elaeocarpus glaber Blume), saya tidak tahu, di sebelah mana saya masih bisa melihat pohon-pohon tersebut di kampung saya. Saya mengerti bahwa orang-orang di kampung saya harus berjuang keras untuk hidup, tetapi seharusnya mereka tidak menghancurkan alam tempat mereka bergantung. Saya ingin ada anak muda di kampung saya yang mempedulikan alam sekitarnya, tetapi keponakan saya, yang saya kuliahkan, ternyata lebih memilih bergabung dengan ormas dan tidak melanjutkan kuliahnya.

Kini bahkan sungai yang mengalir di bagian Timur dan Barat kampung saya airnya sangat berkurang. Dahulu itu tidak pernah terjadi, bahkan ketika terjadi kemarau sangat panjang sekalipun. Ikan-ikannya pun turut menghilang, sebut saja sidat air tawar (Anguilla bicolor bicolor McClelland, 1844) yang di kampung saya disebut 'be julit'. Tapi warga kampung saya tidak ada yang peduli, terus saja merambah hutan dan menebar racun di sungai yang airnya tinggal gemericik saja. Suatu kali, menurut cerita adik bungsu saya yang tinggal di kampung, orang membakar pohon beringin terbesar yang terdapat di kawasan hutan batas Utara kampung. Entah apa yang terjadi, orang yang membakar kemudian jatuh sakit. Setelah diobati dan sembuh, dilakukan upacara 'nebus' di pohon beringin besar yang telah menjadi abu. Saya sulit memahami orang-orang di kampung saya, mereka taat melaksanakan berbagai upacara keagamaan, tetapi dalam perilaku sehari-hari mereka lebih buruk daripada Marno. Marno pulang ke apartemennya sendiri setelah ketika berada di apartemennya Jane, pacarnya di Manhattan, New York, ia teringat istri dan anak-anaknya, meskipun oleh Jane telah dibelikan piyama untuk menginap di apartemennya. Orang-orang di kampung saya selalu mengingat Sang Maha Pencipta, tetapi dalam keseharian, mereka terus saja berselingkuh, menghancurkan ciptaan-Nya. Mungkin bukan hanya orang di kampung saya, orang Bali pada umumnya juga demikian. Mereka berteriak lantang soal ajeg Bali, tetapi terus menjual telajakan tebing sungai untuk dijadikan lokasi vila oleh para pendatang. Mereka mengucapkan salam Om Swastyastu, tetapi setelah itu menebarkan kehancuran terhadap alam semesta (buana agung).

Saya menulis tayangan ini setelah membaca kembali cerita pendek Umar Kayam, Seribu Kunang-kunang di Manhattan, untuk kesekian kalinya. Entah mengapa saya ingin membacanya lagi dan lagi. Kali ini, saya bukannya senang Marno pulang setelah teringat istri dan anak-anaknya. Saya tahu, besok lusa dia akan kembali menginap di apartemen Jane; sama dengan orang di kampung saya, kembali merambah hutan setelah menggelar upacara 'tumpek uduh' untuk menghormati tanaman dan tumbuhan serta 'tumpek kandang' untuk menghormati ternak dan satwa. Dan kenyataannya, berbagai jenis tumbuhan dan satwa di kampung saya kini menghilang begitu saja. "Lalu menghilanglah Marno di balik pintu, langkahnya terdengar sebentar dari dalam kamar turun tangga." Lalu, terbayang oleh saya, orang-orang di kampung seperti Jane. "Di kamarnya, di tempat tidur sesudah minum beberapa butir obat tidur, Jane merasa bantalnya basah." Entah kapan mereka baru akan menyadari bahwa mereka tidak hanya hidup sendiri, sebelum semuanya menjadi terlambat, alam yang mereka hancurkan pada gilirannya akan menghancurkan mereka, suatu hari kelak.

Ditayangkan terlebih dahulu pada blog gurukecil

1 komentar: